Kota Stratford Upon Avon identik dengan William Shakespeare. Paling tidak, begitulah. Ada aura romantis. Sore menjelang petang, duduk di kursi di pedestrian, seberang rumah bercat putih dengan garis-garis hitam tebal, rumah tempat kelahiran pujangga besar itu, sambil menikmati secangkir kopi campur Bailey Irish dan roti scone, di antara turis yang terus lalu lalang. Sebelum berjalan kaki ke stasiun keretanya yang mungil dan klasik, dengan warna pink yang mendominasi. Kembali ke Coventry. Ke stasiunnya, yang pagi tadi ketika tengah berdiri di peron, menunggu kedatangan kereta, aku menerima kabar mengagetkan itu, sebuah kabar gembira. Dari seberang telepon, dari mBak Intan, Yayasan Plan International Indonesia, untuk ajang lari Jelajah Timur 2023.
“Sudah confirmed ya Om, donasinya lima ratus sembilan puluh tiga juta!”
OR NOT TO BE…
Awalnya aku hanya membayangkan mungkin angka terbesar tidak lebih dari seratus juta rupiah. Program CSR (corporate social responsibility) kompak para SRO (self regulatory organization; BEI KPEI KSEI) pasar modal, yang berbarengan dengan peringatan HUT Pasar Modal, yang tahun ini bertajuk penyediaan fasilitas air bersih, persis sesuai dengan kampanye Yayasan yang telah berjalan dari tahun ke tahun untuk Nusa Tenggara.
Awalnya aku tidak terlalu menaruh harapan untuk kampanye penggalangan dana charity-run melalui media sosial. Pengalaman bertahun-tahun mengajarkan, hanya segelintir yang bereaksi -menyumbang- dari hasil kampanye medsos. Selebihnya, sebagian besarnya -dalam jumlah dan nilai- tetap saja melalui jalur konvensional, mengandalkan kontak personal. Tetapi tayang kampanye medsos tetap saja harus tayang, karena begitulah “rule of the games”-nya.
Awalnya di acara resepsi pernikahan seorang karyawan BEI, aku hadir, dan bertemu dengan para petinggi SRO, aktif maupun mantan. Satu dua di antaranya ternyata mengetahui kampanye charity-run itu lewat medsos, dan menjadi salah satu topik yang dibahas di meja makan. Berlanjut ke kesepakatan untuk ditindaklanjuti, pengajuan proposal, undangan presentasi, perjanjian kerja sama, serah terima simbolik, yang keseluruhannya dilakukan secara sempurna oleh teman-teman di Yayasan.
THAT IS THE QUESTION.
“Gue pengen berenti lari charity…”
Tahun ini menandai genap sepuluh tahun gua berlari charity, dan angka lebih dari setengah miliar tadi adalah capaian tertinggi selama ini.
Gua ingat tulisan “Waktu Berjalan”, ketika bercerita tentang suasana “taman makam” para pendaki di Everest Climbers Memorial (“Apakah ketika setelah mencapai puncak, eforia kebahagiaan membuat kita tidak lagi hati-hati, ataukah capaian tertinggi hidup seolah membuat kita tidak butuh lagi sebuah kehidupan? Entahlah.”) Gua bukan berencana mengakhiri hidup setelah ini. Tapi setelah mencapai “puncak angka” itu, gua mungkin gak lagi “berhati-hati”, mungkin menjadi takabur, dan gak menghargai lagi angka-angka kecil. Atau capaian tertinggi itu membuat gua gak butuh lagi “kehidupan yang satu ini”. Entahlah.
“Kalau kamu berhenti berlari charity, kamu tau apa dampaknya? Dan apa yang tidak terdampak…?”
To be, or not to be, that is the question. ~ William Shakespeare
NH